Rabu, 14 Januari 2009

Ego Energi Vs Kelestarian Hutan

KEBUTUHAN sumber energi dewasa ini tak bisa dihindari telah menjadi kebutuhan primer bagi seluruh umat manusia di dunia. Energi, terutama sebagai bahan bakar, merupakan hal yang tiap hari dicari. Mesin-mesin industri, sarana trasportasi, bahkan rumah tangga, bergantung kepada alat-alat penopang hidup yang membutuhkan energi agar bisa beroperasi.

Ketika penduduk semakin banyak, tentu kebutuhan energi juga meningkat, baik yang berbahan bakar fosil maupun nabati. Sebagai ilustrasi, kebutuhan akan energi listrik di Pulau Jawa saja masih sulit terpenuhi. Dengan daya mampu netto 18.406 megawatt (MW), sistem Jawa-Bali memiliki pembangkit sebanyak 216 unit. Selain pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik yang memasok daya ke sistem tersebut adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebesar 8.740 MW.

Kemudian pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) 5.985 MW, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 1.483 MW, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 774 MW, dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) 66 MW.

Dibanding dengan tingkat kebutuhan yang terus bertambah, pasokan pembangkit-pembangkit itu kini kurang mencukupi alias defisit. Jika terjadi kerusakan atau keterlambatan bahan bakar, pasti terjadi pula pemadaman. Kalau pun tidak, pasti diterapkan pembatasan-pembatasan yang berbuntut pada pengurangan aktivitas industri. Seperti terjadi pada pertangahan tahun lalu, terjadi gangguan pasokan daya listrik di PLTU Paiton Unit 7, Jatim, berdaya 600 MW milik PT Paiton Energy Company (PEC) sejak Selasa (19/6/ 2008); PLTU Cilacap Unit 2, Jateng, 300 MW; dan PLTGU Cilegon, Banten, sekitar 100 MW, karena perawatan dan lain-lain.

Kebutuhan energi itu belum termasuk kebutuhan transportasi, listrik pulau-pulau besar lain (25%), kebutuhan nasional, dan kebutuhan langsung industri. Pemenuhan kebutuhan energi pun kini menjadi panglima utama yang terus digenjot, terutama dengan mengandalkan batubara. Setelah menjadi pemasok utama energi serta lewat pemerintah melalui kebijakan energi nasional dengan mencanangkan PLTU 10 ribu MW, Peraturan Presiden (Perpres) 71/2006 dan 72/ 2006, dan baru saja dijamin dengan Perpres 91/2007, membuat eksploitasi batubara semakin gencar.

Hutan Dikorbankan

Tentu memacu program pemenuhan energi, terutama batu bara, akan membawa dampak yang cukup berat. Hutan pun rusak. Kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektare (ha) setiap tahun. Kerusakan itu kini mencapai 40 persen atau 50 juta ha, dan membutuhkan 25 tahun untuk memulihkannya.

Salah satu penyebab utama kerusakan hutan, terutama di Kalimantan, adalah kegiatan ekplorasi batubara. Ribuan hektare hutan kembali rusak. Bahkan kerusakan hutan di Kalimantan Timur telah mendatangkan bencana. Wilayah Balikpapan yang semula tak pernah dilanda bencana, tahun lalu diterjang banjir. Samarinda juga demikian. Terakhir, banjir menerjang Kabupaten Kutai Kertanegara. Pemkab Kutai Kertanegara mengakui bahwa bencana itu timbul akibat kerusakan hutan dan tambang batubara. Bahkan 315 dari 705 kuasa pertambangan batubara Kaltim ada di kabupaten tersebut (Kompas, 6/1).

Ancaman atas kelestarian hutan juga datang dari upaya pemenuhan energi lewat bahan bakar nabati (biofuel). Lewat Peraturan Menteri ESDM No 32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain, disebutkan mulai Januari 2009 badan usaha pemegang izin usaha bahan bakar diwajibkan menjual BBN, yakni biodiesel minimal satu dari jumlah konsumsi bahan bakar transportasi public service obligation (PSO) dan transportasi non-PSO.

Kewajiban terus bertambah hingga 25% pada 2025. Berkait dengan kewajiban itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Sabtu (6/12/2008),

menegaskan, pemerintah telah meminta percepatan kewajiban menggunakan BBN, setidaknya mulai Januari 2009. Volume wajib penggunaan crude palm oil (CPO)/ sawit yang kini hanya 1,2 juta ton harus ditingkatkan menjadi 2,5 juta ton sesuai dengan kapasitas industri dalam negeri.

Saat ini, dari 18 juta ton CPO produk dalam negeri, 4,5 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri non-BBN. Sisanya untuk ekspor dan kebutuhan BBN terbatas. Padahal tanpa peraturan tersebut, hutan Kalimantan juga rusak akibat sawit.
Berdasar pemantauan lembaga Save Our Borneo, laju kerusakan hutan (deforestasi) Kalimantan telah mencapai 864 ribu ha/tahun, yang 80 % di antaranya akibat pembukaan lahan sawit. Paling parah terjadi di Kalimantan Tengah, mencapai 256 ribu ha/tahun.

Padahal Indonesia dalam Deklarasi Sidney hasil forum APEC 2007 telah berkomitmen untuk menyelematkan hutan Kalimantan. Sebagai imbal balik, Indonesia mendapatkan komitmen bantuan 20 juta dolar AS dan 100 juta dolar Australia. Direncanakan, hutan dalam kawasan APEC bisa bertambah hingga 20 juta hektare sampai dengan 2020, perbaikan kawasan hutan gambut Kalimantan, penyelamatan 70 ribu hektare hutan rawan dan menanam 100 juta pohon baru. Bantuan itu akan bertambah, karena tidak termasuk program pengurangan emisi rumah kaca hingga 30 tahun ke depan.

Dalam tataran itulah sikap mendua timbul. Di satu sisi, ingin memenuhi kebutuhan energi, baik lewat pertambangan fosil maupun lewat pengembangan biodisel (sawit); di sisi lain hutan perlu diselamatkan. Padahal, eksploitasi tambang batubara ataupun pengembangan sawit telah terbukti justru merusak hutan.

Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk pemenuhan energi tanpa merusak hutan? Toh, Indonesia kaya akan energi matahari, angin, gelombang air laut, panas bumi, dan lain sebagainya, yang lebih ramah lingkungan?

Bukankah kerusakan hutan pun telah terbukti mendatangkan kerugian yang tidak dapat dinilai, sebab berkait dengan keselamatan jiwa manusia? Kalaupun tidak bisa dihindari, adakah pemetaan yang jelas tentang tata guna lahan yang lebih mengutamakan kelestarian hutan?

Semua itu kembali kepada kebijakan dan perencanaan nasional terpadu, yang pada akhirnya akan menentukan pemenuhan energi dan kelestarian hutan. Tentu, jika diminta untuk memilih, kita akan mengutamakan keselamatan jiwa dengan mempertahankan hutan yang tersisa, bahkan merehabilitasi hutan-hutan yang sudah rusak.

Fransisca Emilia, Suara Merdeka, 08 Januari 2009

Selasa, 25 November 2008

Bunga ini buat Ibu


Memiliki dua orang anak cowok dengan usia tak terpaut jauh seringkali membuatku kelabakan. Setiap hari ada saja tingkah polah mereka yang menggemaskan, menjengkelkan, kadang mengharukan.

Ridwan, anak pertamaku tiga bulan lagi berulang tahun kelima, sementara Matahari adiknya satu tahun lima bulan. Ridwan teramat aktif, kalo nggak bisa dibilang overaktif. Dia nggak bisa diam barang sejenak, kecuali saat menonton film kesayangannya, Naruto. Yang sering menjadi korban keaktifannya tentu saja Matahari. Biasanya Matahari dijadikannya partner berkelahi, perang-perangan, atau balap mobil

Sore itu, sepulang kerja hari sangat cerah, kuajak Ridwan dan Matahari bermain di halaman. Matahari yang baru pandai berjalan berlarian kesana-kemari dengan gembira, sementara Ridwan asik mencari kepik diantara rerimbunan tanaman perdu. Aku duduk di tangga mengawasi mereka, sesekali berteriak dan berlari mengejar Matahari bila ia keluar pekarangan menuju ke jalan raya.

Tiba-tiba, Ridwan datang. Tangannya menggenggam dua kuntum bunga rumput berwarna ungu. "Bunga ini buat ibuk, kasih di rambut ya Buk!" katanya sambil mengulurkan tangan. Akupun membungkuk dan membiarkannya menyelipkan bunga itu di telingaku. "Ibuk cantik deh" ujarnya dengan senyum tulus.

Akupun tersenyum dan tak kuasa untuk tidak memeluknya. "Makasih ya sayang", kucium pipinya penuh cinta. Saat-saat seperti ini menjadi saat terindah dan paling berharga yang tak bisa digantikan oleh apapun. Rasanya dia menjadi anak paling manis di dunia, terlepas dari polahnya yang kelewat aktif dan usil, yang seringkali membuatku senewen dan tak sabar.

Teringat olehku betapa sering tak sabarnya aku bila dia tak menuruti
omonganku, bila dia mogok mandi di pagi hari sebelum berangkat sekolah sementara akupun harus menyiapkan diri berangkat kerja, atau bila dia kelewat jahil pada adiknya. Bila sudah tak sabar, kehabisan kata membujuknya, terkadang aku harus berteriak marah, bahkan tanganku ikut campur mencubit pantatnya.

Duh Gusti, dia hanya anak-anak yang merindukan perhatian bapak ibunya. Sementara hari senin sampai jumat waktuku habis di kantor. Mungkin keaktifan dan kejailannya itu memang untuk menarik perhatianku. Lihatlah, betapa tulusnya dia memberikan bunga ungu ini buatku. Dan dia sering memanggilku "Ibuk Lilik yang cantik" yang membuatku merasa menjadi perempuan paling cantik di dunia, he...he..he...

Aku memang bukan ibu terbaik, bukan ibu yang sempurna, tapi aku ingin menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anakku, menjadi ibu yang cantik secantik bunga ungu yang terselip ditelingaku.

Minggu, 10 Agustus 2008


Uji Nyali di Bukit Bangkirai

Uji Nyali di Bukit Bangkirai

Secara internasional, nama populernya Borneo. Kita menyebutnya Kalimantan: pulau yang menyimpan pesona luar biasa dan eksotisme liar nan menakjubkan. Namun setelah banyak kasus pembalakan liar di hutan dan kebakaran berkali-kali dalam belasan tahun

terakhir, masihkah ia pulau yang eksotis dan memesona?

Saya ke Borneo ini kali bukan untuk berpesiar melainkan untuk tinggal dan bekerja. Ini seperti ”kutukan Sungai Mahakam” seperti candaan teman-teman saya. Memang ada mitos yang mengatakan, siapa pun yang meminum air Sungai Mahakam, ia pasti akan kembali ke Kalimantan. Meski sibuk bekerja, saya tak mau melewatkan waktu luang untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat baru yang belum saya kunjungi. Selain karena hobi, pertanyaan apakah Borneo masih menarik setelah kasus perusakan-perusakan itu terus menggoda saya. Dan ya, meskipun semakin gundul, yakinlah hutan pulau tersebut masih tetap membuat senang para petualang. Salah satu tempat eksotis yang layak didatangi adalah Bukit Bangkirai di Kalimantan Timur.

Dari Kota Minyak Balikpapan, saya bersama beberapa teman naik bus jurusan Samarinda dan turun di simpang Semboja kilo 38. Kilo adalah istilah untuk menyebut jarak tertentu di jalan raya dari sebuah kota. Sebuah papan nama besar bertuliskan Bukit Bangkirai menjadi petunjuk jalan yang harus kami lalui.

Tidak ada angkutan umum menuju ke sana. Perjalanan kami lanjutkan dengan motor trail milik BPTP Samboja. Kilo demi kilo jalan aspal penghubung Samboja-Banjarbaru, Kalimantan Selatan pun kami lewati.

Meskipun jalan provinsi, jangan bayangkan jalan itu semulus jalan raya di Pulau Jawa. Lubang besar dan kecil ada di mana-mana. Bahkan, ada salah satu ruas jalan yang longsor sehingga jalan aspal yang tersisa tinggal setengah meter.

Sepanjang jalan, kami tidak menjumpai perkampungan. Yang terlihat hanya lahan hutan gundul dengan sisa beberapa kelompok pohon. Selebihnya semak belukar semata. Pohon-pohon tua pun meranggas dengan sisa ranting-ranting kaku yang mengisi kekosongan angkasa.

Beberapa saat kemudian, tampak kelompok kecil permukiman ilegal yang menyedihkan. Satu kelompok rumah hanya terdiri atas tiga atau lima buah. Dua puluh kilometer dari simpang Samboja, kami melihat papan penunjuk arah ke kiri yang bertuliskan 7 km lagi Bukit Bangkirai. Dari situ, jalanan sudah tak beraspal lagi. Bahkan sebagian penuh lumpur. Medannya pun lumayan berat, penuh tanjakan dan turunan tajam. Beruntung kami tiba di sana setelah hujan reda dan lumpur agak mengering sehingga jalur lebih mudah dilewati.

”Jangan coba-coba datang saat hujan. Butuh perjuangan tinggi dan harus rela berkotor-kotat,” saran seorang teman sebelum kami berangkat.

***

AKHIRNYA, kami tiba di gerbang masuk kawasan wisata. Berbeda dengan kondisi hutan yang kami lihat di sepanjang perjalanan, kawasan tersebut sangat hijau dan menawan. Cukup dengan membayar retribusi Rp 2.000 untuk orang dewasa, dan Rp 2000 (motor), kami bisa menikmati keindahan panorama dan kesejukan Bukit Bangkirai. Lokasinya cukup nyaman dengan fasilitas lengkap. Ada kantor petugas kawasan wisata, kolam renang, taman bermain, kafetaria, toko cenderamata, tempat pertemuan berupa lamin (rumah khas dayak), cottage, dan camping ground.

Setelah beristirahat beberapa waktu di kafetaria, kami memasuki hutan wisata melewati trek menuju ke canopy bridge (jembatan kanopi/tajuk). Aroma pohon dan tanah basah khas hutan tropis langsung tercium. Kicau burung dan gemerisik dedaunan tertiup angin menjadi musik alam nan merdu yang mengiringi langkah kami hingga penat dan lelah tak terasa lagi. Sesekali terdengar dengungan serangga menimpali. Mirip orkestrasi megah. Beruntung, kami datang bukan saat hari libur. Jadi, tak banyak pengunjung sehingga kami benar-benar bisa menikmati kedamaian suasana hutan, tanpa gangguan bising suara manusia.

Sepanjang trek yang kami lalui, pohon bangkirai (Shorea laevis) mendominasi lahan hutan. Itulah sebabnya kawasan itu dinamai Bukit Bangkirai. Setelah hampir 1 km berjalan, kami tiba di gerbang jembatan kanopi. Wah, ciut juga nyali memandang jembatan yang digantung dengan ketinggian 30 meter di atas tanah sebagai penghubung lima pohon bangkirai besar. Panjang total jembatan itu 64 meter, terbagi dalam empat ruas. Ruas terpendek 5 meter dan terpanjang 20 meter. Pada dua ujung jembatan terdapat menara ulin setinggi 30 meter yang dibangun mengelilingi pohon bangkirai besar. Perlu diketahui, menurut petugas penjaga kanopi, konstruksi jembatan dibuat di Amerika Serikat dengan biaya 80 ribu dolar.

Selanjutnya, dengan membayar Rp. 15 000 untuk wisatawan domestik dan Rp. 30 000 untuk wisatawan asing, kami pun mencoba uji nyali meniti jambatan kanopi itu dan menikmati panorama hutan tropis dari ketinggian. Untuk mencapai jembatan, kami menapaki 139 anak tangga menara ulin yang mengitari pohon bangkirai. Cukup melelahkan hingga nafas kami terengah-engah setibanya di puncak menara. Namun, rasa lelah itu berganti dengan senyum lebar dan rasa damai ketika kami memandang hamparan hutan tropis Kalimantan yang masih tersisa.

Kami segera harus mulai meniti jembatan. Inilah uji nyali sebenarnya. Panjangnya memang tak seberapa. Namun lebar jembatan baja yang hanya 0,5 meter di ketinggian 30 meter itu benar-benar membuat nyali jadi ciut juga. Apalagi saat itu angin bertiup kencang dan membuat jembatan bergoyang-goyang. Terlebih, kecepatan angin saat itu mencapai 30 mil/jam.

Seorang demi seorang dari kami pun menyeberangi jembatan itu. Itu harus kami lakukan meskipun sebenarnya batas maksimal beban jembatan 2 kuintal. Namun kami tak mau ambil risiko dengan membebani jembatan terlalu berat.

Setelah itu, kami pun berlama-lama menikmati pemandangan dari puncak menara. Hamparan hutan Dipterocarpacae menyejukkan mata dan hati. Sayang tak ada satwa yang bisa kami amati karena hari sudah siang. Bila saat itu dini hari atau ketika menjelang petang, kita bisa mengamati aktivitas satwa liar seperti beruang madu, beruk, babi, orang utan, rangkong, dan bermacam-macam burung.

Di tempat seperti di Bukit Bangkirai itu, kami ingin berlama-lama menikmati pemandangan eksotis dari atas jembatan. Tapi kami harus sadar diri. Jalur jalan yang berat bakal membuat kami kemalaman di perjalanan. Dan itu pasti tidak asyik.

Mengadopsi Pohon, Melestarikan Alam

MENGADOPSI anak sudah lazim terjadi. Mengadopsi pohon? Mungkin terdengar asing dan aneh. Orang mana yang mau mengadopsi pohon?

Nah, mengadopsi pohon justru menjadi salah satu atraksi wisata di Bukit Bangkirai. Tidak perlu melalui proses panjang dan jelimet di pengadilan seperti ketika seseorang mau mengadopsi anak. Cukup membayar satu juta rupiah untuk dua tahun, Anda resmi menjadi orang tua adopsi pohon yang Anda pilih sendiri. Donasi yang Anda bayar itu untuk pemeliharaan kawasan dan pelestarian lingkungan. Sebagai penghargaan, identitas Anda dan keterangan lengkap pohon adopsi, akan ditulis di papan nama yang dipasang di depan pohon itu.

Program adopsi pohon itu merupakan salah satu bentuk wisata lingkungan hasil kerja sama pengelola dengan Vivo Corporation Japan. Beberapa nama Jepang dan petinggi negara kita tercantum di papan nama adopsi pohon. Itu bukti bahwa kenyataannya banyak juga yang mengikuti program tersebut.

Selain adopsi pohon, Bukit Bangkirai juga cocok untuk wisata pendidikan lingkungan. Tujuh trek alam berupa jalan setapak dengan tingkat kesulitan berbeda dapat dipilih sesuai kemampuan kita. Trek paling ringan sepanjang 150 meter dan 300 meter dengan medan datar dan yang paling panjang sampai 2 kilometer dengan medan naik turun. Bagi yang memiliki stamina kuat, lewat trek panjang lebih menarik dan menantang karena lebih banyak pemandangan alam yang bisa dilihat.

Trek yang diberi nama menteri dan mantan menteri seperti MS Ka'ban, Marzuki Usman, M Prakosa, dan Djamaludin tersebut dibiarkan dalam kondisi alami dengan rintangan pohon-pohon tumbang. Sepanjang perjalanan kita dapat belajar mengenali jenis-jenis pohon penyusun hutan yang didominasi jenis bangkirai. Di setiap jenis pohon terdapat plang bertuliskan nama dan ciri-ciri pohon tersebut. Kita bisa juga melakukan pengamatan burung bila membawa teropong.

Salah satu trek pun dibuat menuju ke kebun buah. Bila datang saat musim buah, kita dapat ikut menikmati lezatnya buah-buahan hutan. Namun sayang, kami datang justru tepat saat musim durian baru saja berakhir. Satu trek lagi menuju ke kebun anggrek yang sudah terbengkalai. Awalnya, kebun itu merupakan laboratorium pengembangan anggrek hasil kerja sama pengelola dengan IPB. Namun tempat itu kini tinggal pancang-pancang bekas penanaman anggrek yang tidak terpelihara. Beberapa jenis anggrek yang tersisa tampak merana setelah diambil dari habitat alamnya dan tidak mendapat cukup nutrisi. Padahal, seharusnya tempat itu bisa menjadi laboratorium anggrek Kalimantan yang memiliki daya tarik tersendiri.

Di salah satu trek panjang juga terlihat beberapa peralatan outbond. Memang, lokasi itu sering digunakan untuk outbond karena medannya cukup mengasyikkan.

Kalau dicermati, pengelola tampaknya ingin menjadikan Bukit Bangkirai itu sebagai kawasan wisata pendidikan lingkungan, dengan harapan pengunjung akan sadar lingkungandan mengikuti seruan ekowisata yang terpasang di tengah kawasan: ”Take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprint” (Jangan ambil apa pun selain gambar, jangan bunuh apa pun selain waktu, jangan tinggalkan apa pun selain jejak kaki). Seruan bijak yang sugestif.

(Fransica Emilia/73)

Sesuai aslinya dari Suara Merdeka Minggu, 10 Agustus 2008

Minggu, 29 Juni 2008

Gaya Hidup Hijau

THINK globally act locally. Semboyan itu kerap dilontarkan para aktivis lingkungan dalam berkampanye dan menjadi landasan bagi setiap aktivitas mereka. Menyikapi kondisi lingkungan yang semakin tidak nyaman dihuni akibat pemanasan global, illegal logging, dan bencana, tindakan sekecil apa pun untuk menjaga dan menyelamatkan lingkungan menjadi sangat berarti. Ibarat butir-butir kecil pasir, bila dikumpulkan bisa membentuk gurun yang begitu luas. Aksi kecil yang kelihatannya hanya berdampak lokal, bila dilakukan terus-menerus dan oleh banyak orang, akhirnya akan berdampak global.
Demikian pula dalam menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Setiap orang bisa melakukannya, bahkan bisa melekat dalam setiap detik jengkal kehidupan masing-masing. Orang pun tidak harus bergabung dengan organisasi lingkungan yang memiliki program hebat-hebat. Sebab, penyelamatan lingkungan bisa dimulai dari individu dan keluarga. Aksi-aksinya bisa lewat pola hidup sehari-hari atau sering disebut gaya hidup hijau.
Jika benar-benar menganut gaya hidup hijau, mungkin setiap tindakan kita akan membuat lingkungan menjadi lebih baik dan nyaman. Paling tidak, hal yang kita lakukan itu tidak menambah kerusakan atau meminimalkan pengaruh buruk bagi lingkungan. Banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memulai gaya hidup hijau.
Pertama, tanam pohon di pekarangan. Rumah kita akan menjadi asri dan segar dengan kehadiran pohon atau tanaman apa pun. Hal ini mungkin saja terjadi karena pohon yang kita tanam bisa menyerap karbondioksida dari udara serta menyerap air hujan dan menyimpannya sehingga mengurangi risiko banjir. Bila ingin memperoleh manfaat lebih, tanamlah pohon buah. Selain berbagai manfaat diatas, jika tanaman itu memasuki musim berbuah, kita juga bisa menikmati kelezatan buahnya. Bahkan bila jumlahnya banyak, bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga.
Kedua, memilah sampah yang kita hasilkan sendiri. Sampah organik yang terdiri atas bahan-bahan yang mudah terurai seperti sisa sayuran dan sampah kebun, bisa kita manfaatkan untuk membuat pupuk kompos. Pupuk organik ini sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman seperti bunga atau sayuran. Bahkan sayuran organik yang bebas dari bahan-bahan kimia, kini mulai digemari karena membuat tubuh sehat. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam, bisa kita jual kembali atau diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang. Sisanya baru kita buang di tempat sampah. Dengan demikian, sampah yang kita hasilkan tidak akan terlalu banyak
Ketiga, hemat dalam menggunakan energi atau mencari energi alternatif. Gunakan listrik, air, dan AC sesedikit mungkin. Matikan lampu, alat elektronik, dan keran air bila tidak dibutuhkan. Pakai lampu hemat energi dan kendaraan hemat bahan bakar. Servis kendaraan secara berkala sehingga kinerja mesin tetap terjaga dan tidak boros bahan bakar. Buat rumah dengan ventilasi dan jendela yang cukup untuk mengurangi pemakaian lampu dan AC. Bila memungkinkan, gunakan energi alternatif yang ramah lingkungan seperti tenaga surya atau biofuel yang sekarang mulai dikembangkan secara massal.
Keempat, beli alat elektronik berkualitas. Saat ini, pasar banyak menyediakan alat-alat elektronik murah namun belum tentu terjamin kualitasnya. Sebaiknya pilih alat elektronik yang berkualitas meskipun agak mahal tetapi awet. Dengan demikian, kita tidak mempercepat penumpukan sampah.
Kelima, gunakan barang-barang yang bisa dipakai ulang. Pakailah sapu tangan untuk mengganti tisu dan gunakan kertas secara bolak-balik. Mengurangi pemakaian kertas berarti kita mengurangi penebangan pohon. Bawalah tas sendiri saat pergi berbelanja sebagai pengganti kantong plastik dan gunakan ulang kantong plastik yang kita miliki untuk keperluan lainnya.
Keenam, pilih makanan segar dan dengan kemasan ramah lingkungan. Makanan segar pada umumnya menggunakan sedikit pembungkus daripada makanan yang sudah diawetkan. Kemasan ramah lingkungan seperti kertas atau plastik daur ulang lebih baik daripada stiroform yang sulit didaur ulang.
Ketujuh, kurangi pemakaian perhiasan, terutama yang terbuat dari emas. Sebab, untuk menghasilkan satu gram emas, perusahaan tambang harus membuang 104 liter air, 650 kg tailing, dan 1,73 ton sampah batu dan pasir. Begitu juga dengan berlian dan produk-produk lain yang berbasis barang tambang. Minimal, kita tidak berlaku hidup konsumtif.
Hal-hal kecil yang nampaknya sepele itu, ternyata sangat bermanfaat dalam melestarikan lingkungan. Dengan menjalankan gaya hidup hijau secara konsisten berarti kita sudah turut dalam aksi penyelamatan lingkungan.
Apalagi bila gaya hidup tersebut kita dukung dengan program kampanye. Tidak perlu muluk-muluk, kampanyekan gaya hidup tersebut pada keluarga, teman dan tetangga terdekat. Bila satu orang mengkampanyekan pada lima orang lain dan seterusnya, bisa kita bayangkan berapa banyak orang yang turut menjalankan gaya hijau. Jika sebagian besar orang sudah berlaku bijak terkait soal gaya hidup tersebut, bisa kita rasakan dampaknya. Tidak lagi sekadar untuk diri sendiri, namun benar-benar global dan bisa memperpanjang umur bumi.

Senin, 09 Juni 2008

Meranti dari Pulau Penjara


SIAPA yang tidak mengenal Pulau Nusakambangan? Belakangan ini nama Nusakambangan semakin akrab di telinga masyarakat karena banyaknya narapidana kelas kakap yang dipenjara di sana dan gencar diberitakan media massa. Namun, hanya sedikit orang yang tahu, bahwa Nusakambangan bukan sekedar pulau penjara. Pulau ini memiliki pemandangan alam yang eksotis serta kekayaan flora dan fauna yang tinggi.
Salah satunya adalah meranti jawa (Dipterocarpus littoralis Bl.). Masyarakat setempat menyebutnya pelalar. Pohon tersebut adalah tumbuhan langka. Menurut IUCN (International Union for Concervation of Nature), lembaga internasional yang mengurusi masalah konservasi alam, pelalar merupakan tumbuhan endemik Nusakambangan. Artinya tumbuhan ini hanya ada di pulau tersebut dan tidak ditemukan di tempat lain. Pohon ini tumbuh di beberapa cagar alam dan hutan sekitar penjara.
Tumbuhan langka ini memiliki batang yang tinggi dan lurus, tidak banyak cabang, sehingga sangat baik digunakan sebagai kayu perkakas, bahan bangunan, meubel, vinir kayu lapis, dan bahan baku kapal. Kekuatannya hampir setara dengan kayu jati (Tectona grandis).
Keunggulan-keunggulan tersebut justru membuat keberadaan pelalar terancam. Sebab masyarakat pesisir Cilacap dan Pangandaran yang berprofesi sebagai nelayan lebih memilih kayu ini untuk pembuatan perahu/kapal. Selain kuat, kayu pelalar dikenal mudah dibentuk, awet dan tahan terhadap hantaman ombak, sehingga menjadi primadona di kalangan nelayan.
Namun sayang, pemanfaatan pelalar di Pulau Nusakambangan tidak dibarengi dengan upaya pelestarian yang memadai, sehingga saat ini tanaman tersebut terancam punah. Pencurian kayu pelalar tetap berlangsung meskipun tanaman tersebut tumbuh di lokasi-lokasi yang dilindungi dan dekat penjara. Para pembuat perahu menebang pohon ini (illegal logging) dan membawa keluar berupa balok kayu, bahkan seringkali sudah dalam bentuk perahu.
Minimnya pengawasan terhadap penebangan liar di Pulau Nusakambangan, menyebabkan pelalar semakin sulit ditemukan. Penelitian terakhir menyebutkan, di Cagar Alam Nusakambangan Barat (salah satu cagar alam di Nusakabangan), hanya ditemukan enam pohon pelalar berukuran besar. Sisanya masih berupa anakan. Selain itu, ditemukan tonggak-tonggak sisa tebangan yang menunjukkan kayu pelalar merupakan komoditas yang diburu oleh banyak pihak.
Bila kondisi tersebut terus berlangsung, pelalar akan punah dan kita akan kehilangan lagi salah satu kekayaan alam. Karena itu, budi daya pelalar mutlak diperlukan. Bukan hanya untuk menghindari kepunahan, melainkan perlu dikembangkan untuk kepentingan komersial. Melihat kelebihan-kelebihannya, pelalar mempunyai prospek pasar yang cerah dan bernilai ekonomi tinggi, terutama sebagai bahan dasar perahu. Bila jumlahnya banyak, pelalar bisa menjadi komoditi unggulan seperti kayu jati.
Budi daya pelalar bisa juga dikembangkan di luar Pulau Nusakambangan. Tentu saja dengan memperhatikan tempat tumbuh yang sesuai dengan habitat aslinya dan faktor-faktor yang pendukung kehidupannya. Salah satunya, keberadaan mikoriza yang berasosiasi dengan akar-akar dipterocarpus ( Jullich, 1988). Mikoriza merupakan hubungan simbiosis mutualisme antara jamur tertentu dan akar tanaman sehingga penyerapan hara menjadi lebih efisien.
Kondisi-kondisi pendukung itu memang bisa diciptakan di lain tempat. Namun, alangkah lebih efisien dan efektifnya, jika tanaman tersebut dikembangkan di Nusakambangan. Selain bisa menekan ongkos produksi, penanaman pelalar dengan manajemen lestari akan membantu perbaikan ekosistem Nusakambangan. Terlebih saat ini Nusakambangan butuh rehabilitasi. Banyak lahan setempat dalam kondisi rusak/gundul akibat illegal logging dan pembukaan perkebunan pisang kavendis yang gagal serta terbengkalai. Jika kita bisa melaksanakan pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, mengapa tidak?